SwaraWarta.co.id – Disebutkan bahwa mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),
Firli Bahuri, kembali tidak memenuhi panggilan penyidik Polda Metro Jaya terkait kasus dugaan gratifikasi dan suap yang melibatkan terpidana Syahrul Yasin Limpo (SYL).
Hal ini disampaikan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Ade Safri Simanjuntak, melalui keterangan tertulis pada Kamis (28/11/2024).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ade Safri mengungkapkan bahwa Firli tidak hadir dalam jadwal pemeriksaan yang telah ditetapkan penyidik.
Informasi ketidakhadiran tersebut disampaikan melalui surat yang dikirimkan oleh kuasa hukumnya, Ian Iskandar, yang datang langsung ke Polda Metro Jaya sekitar pukul 10.54 WIB.
Surat tersebut menjadi bukti formal bahwa Firli tidak akan memenuhi panggilan tersebut.
Menanggapi situasi ini, penyidik berencana mengadakan konsolidasi untuk menentukan langkah-langkah berikutnya dalam proses penyidikan.
Ade Safri menegaskan bahwa upaya tindak lanjut ini masih dalam tahap koordinasi internal.
Namun, ia tidak memberikan tanggapan spesifik mengenai kemungkinan adanya penjemputan paksa terhadap Firli, apabila ketidakhadiran ini terus berlanjut.
Sementara itu, Ian Iskandar, selaku kuasa hukum Firli, menjelaskan bahwa dirinya datang ke Polda Metro Jaya bersama dua rekannya untuk menyerahkan dokumen yang berkaitan dengan pemanggilan tersebut.
Namun, Ian tidak memberikan penjelasan rinci mengenai alasan di balik ketidakhadiran Firli pada jadwal pemeriksaan itu.
Surat yang ia serahkan pun tidak diungkapkan isinya secara spesifik, sehingga alasan resmi Firli absen masih belum diketahui.
Ian hanya menambahkan bahwa Firli akan memenuhi panggilan penyidik pada waktu yang belum ditentukan.
Ia meminta agar informasi lebih lanjut mengenai substansi surat tersebut ditanyakan langsung kepada pihak penyidik Polda Metro Jaya.
Meski demikian, pernyataan ini tetap menimbulkan spekulasi tentang alasan di balik ketidakhadiran mantan Ketua KPK tersebut.
Kasus yang melibatkan Firli Bahuri ini menjadi perhatian publik karena menyangkut dugaan penerimaan gratifikasi dan suap dalam kaitannya dengan Syahrul Yasin Limpo, seorang mantan pejabat yang sebelumnya telah dijatuhi hukuman.
Dalam konteks ini, ketidakhadiran Firli dinilai sebagai hambatan bagi kelancaran proses hukum yang sedang berlangsung.
Langkah penyidik selanjutnya menjadi sorotan, terutama terkait kemungkinan penjemputan paksa jika ketidakhadiran Firli terus berulang.
Dalam proses hukum, pemanggilan seorang tersangka merupakan bagian penting untuk mendapatkan keterangan langsung terkait kasus yang sedang diselidiki.
Oleh karena itu, respons penyidik terhadap absennya Firli dianggap krusial dalam menjaga kredibilitas penyidikan.
Sebagai mantan Ketua KPK, posisi Firli Bahuri di mata publik menambah tekanan dalam proses hukum ini.
Banyak pihak yang berharap kasus ini dapat diselesaikan dengan transparan dan sesuai dengan prinsip keadilan.
Di sisi lain, sikap Firli yang tidak hadir dalam panggilan pemeriksaan justru memicu berbagai spekulasi tentang alasan sebenarnya di balik tindakannya tersebut.
Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai langkah-langkah apa yang akan diambil oleh Polda Metro Jaya untuk menindaklanjuti absennya Firli.
Penegakan hukum yang tegas namun tetap sesuai prosedur menjadi harapan banyak pihak, mengingat kasus ini tidak hanya menyangkut aspek hukum, tetapi juga integritas lembaga yang pernah dipimpin oleh Firli Bahuri.
Dengan situasi yang terus berkembang, publik akan terus memantau bagaimana penyidik menangani kasus ini dan apa yang menjadi langkah selanjutnya dalam menghadapi tersangka yang mangkir dari panggilan resmi.
Kejelasan sikap dari semua pihak terkait sangat diperlukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum yang sedang berjalan.***