SwaraWarta.co.id – Kabar kurang menggembirakan datang dari pasar valuta asing hari ini. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menembus angka psikologis Rp17.000.
Berdasarkan pantauan pasar uang pada sore hari ini (5/4/2025), satu dolar AS diperdagangkan di kisaran Rp17.050 hingga Rp17.080.
Level ini merupakan yang terendah bagi mata uang Garuda dalam beberapa tahun terakhir, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku ekonomi dan masyarakat luas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pelemahan rupiah yang signifikan ini diduga kuat dipicu oleh sejumlah faktor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dari eksternal, penguatan indeks dolar AS yang berkelanjutan akibat ekspektasi suku bunga tinggi yang lebih lama di Amerika Serikat memberikan tekanan besar pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik global juga turut memperburuk sentimen investor terhadap aset-aset berisiko.
Sementara dari dalam negeri, beberapa analis menilai bahwa kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang masih relatif tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat menjadi faktor pendorong pelemahan rupiah.
Data ekonomi terbaru yang menunjukkan adanya perlambatan di beberapa sektor juga menambah tekanan pada mata uang lokal.
Menanggapi pelemahan rupiah ini, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mengambil langkah-langkah stabilisasi. Intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi kemungkinan akan dilakukan untuk menahan laju pelemahan rupiah yang lebih dalam.
Selain itu, BI juga diharapkan memberikan pernyataan yang menenangkan pasar dan mengkomunikasikan langkah-langkah kebijakan yang akan diambil ke depan.
Dampak dari pelemahan rupiah ini diperkirakan akan terasa di berbagai sektor. Harga barang-barang impor, termasuk bahan baku industri dan produk elektronik, berpotensi mengalami kenaikan.
Hal ini dapat mendorong inflasi lebih lanjut dan menekan daya beli masyarakat. Sektor usaha yang memiliki utang dalam mata uang dolar AS juga akan merasakan beban yang lebih berat.
Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global. Namun, manfaat ini mungkin terbatas jika pelemahan rupiah terjadi terlalu cepat dan tidak terkelola dengan baik.
Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan segera mengambil langkah-langkah konkret untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang kuat menjadi kunci untuk mengatasi tantangan ini dan memitigasi dampaknya terhadap masyarakat dan dunia usaha. Para pelaku pasar dan masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan memantau perkembangan situasi ekonomi global dan domestik dengan seksama.