SwaraWarta.co.id – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali melontarkan ancaman terhadap Iran terkait program nuklir negara tersebut.
Trump memperingatkan bahwa AS akan melancarkan serangan militer jika perundingan nuklir antara Iran dan negara-negara Barat tidak mencapai kesepakatan.
Ancaman ini disampaikan Trump dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi NBC News. Dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan bahwa Iran harus menghentikan program nuklirnya dan kembali ke meja perundingan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika tidak, Trump mengancam akan mengerahkan kekuatan militer AS untuk menyerang Iran.
“Jika mereka tidak membuat kesepakatan, akan ada pengeboman. Pengeboman yang belum pernah mereka lihat sebelumnya,” kata Trump dalam wawancara tersebut.
Trump juga mengatakan bahwa AS akan menjatuhkan sanksi ekonomi yang lebih berat terhadap Iran jika perundingan nuklir gagal.
Sanksi ini akan memengaruhi pembeli barang-barang dari Iran, baik di Rusia maupun negara lainnya.
Ancaman Trump ini sontak menuai kecaman dari berbagai pihak. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa Iran tidak akan tunduk pada ancaman AS.
Araghchi juga menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah bernegosiasi dengan AS di bawah tekanan dan ancaman militer.
“Negosiasi langsung (dengan AS) telah ditolak, tetapi Iran selalu terlibat dalam negosiasi tidak langsung, dan sekarang juga, Pemimpin Tertinggi telah menekankan bahwa negosiasi tidak langsung masih dapat dilanjutkan,” kata Araghchi.
Negara-negara Barat juga mengkritik ancaman Trump. Mereka menilai ancaman tersebut kontraproduktif dan dapat memperburuk situasi di kawasan Timur Tengah.
Perundingan nuklir antara Iran dan negara-negara Barat telah berlangsung sejak tahun 2015. Namun, perundingan ini mengalami kebuntuan sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir pada tahun 2018.
Ancaman Trump ini meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya konflik militer antara AS dan Iran. Konflik ini dapat memiliki konsekuensi yang luas bagi stabilitas kawasan Timur Tengah.