Pemerintah Berkomitmen untuk Mencegah Kelangkaan Air di Indonesia

- Redaksi

Tuesday, 17 October 2023 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyampaikan pesan yang mendalam. (Infopublik)

SwaraWarta.co.id – Pulau Bali, menjadi tuan rumah The 2nd
Stakeholders Consultation Meeting (SCM), pertemuan penting yang bertujuan untuk
menggugah komitmen nasional terhadap kelangkaan air berkelanjutan dalam
antisipasi Forum Air Dunia ke-10 (WWF), yang akan diselenggarakan pada Mei
2024.

ADVERTISEMENT

ads.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam sambutan Dwikorita Karnawati, Kepala Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyampaikan pesan yang
mendalam.

Ia menyatakan harapannya bahwa pertemuan ini tidak hanya
akan menjadi pendorong komitmen, tetapi juga upaya kolaboratif dalam
pengelolaan sumber daya air dunia, terutama di tengah tantangan saat ini di Indonesia.

Awan gelap pemanasan global telah menyebabkan suhu yang
melonjak di atmosfer kita, sebuah fenomena yang memengaruhi ketersediaan air
tanah akibat penguapan yang cepat.

Baca Juga :  Sandiaga Uno Peringatkan Warga Indonesia Tidak Liburan ke Singapura untuk Menghindari Kasus COVID-19

Seiring dengan percepatan laju penguapan, ketersediaan air
bersih di planet kita perlahan-lahan menyusut.

Dwikorita menyoroti kenyataan yang mengkhawatirkan bahwa
perubahan iklim memberikan tekanan besar pada sumber daya air yang sudah
langka, menciptakan titik-titik panas kelangkaan air dan meningkatkan
kerentanannya di kantung-kantung pangan global.

Menakjubkannya, lebih dari 500 juta petani skala kecil, yang
bertanggung jawab atas 80% pasokan pangan dunia, berada di garis terdepan
pertempuran perubahan iklim, menderita dampak paling berat.

Gelombang kejutan variasi dan perubahan iklim sangat terasa
melalui pengaruhnya terhadap air.

Dinamika interaksi siklus air dengan manusia menghasilkan
variasi spasial dan temporal dalam ketersediaan sumber daya air.

“Dampak-dampak serius yang terkait dengan air
memengaruhi kehidupan, pembangunan, dan keberlanjutan ekosistem, masyarakat,
dan individu,” ujar Dwikorita.

Baca Juga :  Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Polres Tapanuli Tengah Berikan Penghargaan Personil Berprestasi

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) merilis laporan perdana
“Keadaan Sumber Daya Air Global 2021,” yang bertujuan untuk
mengevaluasi dampak perubahan iklim, lingkungan, dan sosial terhadap sumber
daya air di Bumi.

Inventarisasi tahunan ini bertujuan mendukung pemantauan dan
pengelolaan sumber daya air tawar di tengah peningkatan permintaan dan
penurunan pasokan.

Laporan tersebut memberikan gambaran komprehensif tentang
aliran sungai, banjir besar, kekeringan, dan menyoroti pentingnya serta
kerentanannya pada kriosfer (salju dan es).

Laporan ini juga menyoroti wilayah-wilayah di seluruh dunia
yang pada tahun 2021 mengalami kondisi yang lebih kering dari biasanya, akibat
perubahan iklim dan peristiwa La Niña.

“Laporan WMO menyoroti sejumlah tantangan kritis yang
dihadapi sumber daya air global, termasuk ekstrem hidrologi, kehilangan air
tawar, dan masalah ketidaksetaraan akses ke air bersih,” tegas Dwikorita.

Baca Juga :  3 Pasangan Mesum di Jambi Terjaring Razia Siginjai 2024, Benarkah Ditemukan Alat Hisab Narkoba?

Sebagai anggota Dewan Eksekutif Organisasi Meteorologi
Dunia, Dwikorita menekankan ancaman tak terelakkan krisis air akibat perubahan
iklim.

Cuaca ekstrem, perubahan iklim, dan peristiwa terkait air
telah menyebabkan 11.778 bencana yang dilaporkan antara tahun 1970 dan 2021.

Negara maju telah mengalami kerugian ekonomi yang melebihi
60% akibat perubahan iklim, meskipun kerugian tersebut mewakili kurang dari
0,1% Produk Domestik Bruto (PDB) mereka.

Sebaliknya, negara-negara berkembang harus berurusan dengan
realitas yang berbeda, di mana 7% bencana mengakibatkan kerugian yang melebihi
5% PDB mereka dan, dalam beberapa kasus yang genting, bahkan mencapai 30%.

Bagi negara-negara pulau kecil, 20% bencana telah
menyebabkan kerugian yang melebihi 5% PDB mereka, bahkan ada yang melebihi
100%. Tantangannya sudah jelas, dan saatnya untuk bertindak bersama.

Berita Terkait

Nilai Tukar Rupiah Sentuh Level Terendah dalam Beberapa Tahun, Tembus Rp17.000 per Dolar AS
Libur Lebaran, Telaga Ngebel Diserbu Ribuan Wisatawan
Kompensasi Sopir Angkot Puncak Bogor Berkurang, Ternyata Ini Penyebabnya
Tim Patroli Gabungan Amankan Balon Udara Ilegal di Ponorogo
Gubernur Maluku Tinjau Langsung Lokasi Bentrokan di Seram Utara, Imbau Warga Tetap Damai
Kasus Pembunuhan Jurnalis di Banjarbaru: Wakil Komisi I DPR Desak POM TNI Berikan Keterangan Transparan
15 Pekerja Bantuan Palestina Tewas, Bukti Forensik Ungkap Dugaan Eksekusi oleh Israel
Timnas U-17 Indonesia Raih Kemenangan Berharga atas Korea Selatan di Piala Asia U-17 2025

Berita Terkait

Saturday, 5 April 2025 - 17:24 WIB

Nilai Tukar Rupiah Sentuh Level Terendah dalam Beberapa Tahun, Tembus Rp17.000 per Dolar AS

Saturday, 5 April 2025 - 09:50 WIB

Kompensasi Sopir Angkot Puncak Bogor Berkurang, Ternyata Ini Penyebabnya

Saturday, 5 April 2025 - 09:45 WIB

Tim Patroli Gabungan Amankan Balon Udara Ilegal di Ponorogo

Saturday, 5 April 2025 - 09:40 WIB

Gubernur Maluku Tinjau Langsung Lokasi Bentrokan di Seram Utara, Imbau Warga Tetap Damai

Saturday, 5 April 2025 - 09:39 WIB

Kasus Pembunuhan Jurnalis di Banjarbaru: Wakil Komisi I DPR Desak POM TNI Berikan Keterangan Transparan

Berita Terbaru

Cara Menghitung Berat Badan Ideal untuk Kesehatan Optimal

Lifestyle

4 Cara Menghitung Berat Badan Ideal untuk Kesehatan Optimal

Saturday, 5 Apr 2025 - 17:17 WIB